Sebagai upaya untuk menumbuhkan kecintaan terhadap literasi dan budaya lokal sejak dini sekaligus menjadi wadah bagi siswa untuk menampilkan kemampuan bercerita, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) menyelenggarakan Lomba Bertutur tingkat Sekolah Dasar (SD), di Aula Perpustakaan Daerah setempat, Senin (21/4/2026).
Bunda Literasi Kota Pekalongan, Inggit Soraya dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pekalongan sebagai Kota Kreatif Dunia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, mulai dari batik, sejarah, hingga cerita rakyat yang beragam. Melalui lomba ini, para peserta dinilai turut mengambil peran penting dalam menjaga dan melestarikan akar budaya.
“Bertutur bukan hanya soal suara lantang atau gerakan tubuh. Lebih dari itu, bagaimana anak-anak mampu menyalurkan imajinasi, memahami pesan moral, dan membagikannya kepada orang lain,” ujarnya.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti membacakan cerita sebelum tidur dapat menjadi fondasi pembentukan karakter anak.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga membentuk pribadi yang kritis, santun, dan memiliki empati tinggi,” sambungnya.
Dalam kesempatan tersebut, Inggit memberikan motivasi kepada para peserta agar tidak takut tampil di atas panggung. Ia menilai keberanian dan ketulusan dalam bercerita menjadi hal utama yang patut diapresiasi.
Sementara itu, Kepala Dinarpus Kota Pekalongan, Gufron Faza mengatakan bahwa bertutur merupakan bagian penting dari proses literasi. Jika membaca diibaratkan sebagai jendela dunia, maka bertutur adalah cara membuka jendela tersebut agar dapat dinikmati oleh orang lain.
“Lomba ini bukan sekadar ajang unjuk bakat atau menghafal teks, tetapi bagaimana anak-anak mampu menghidupkan nilai-nilai budaya dan sejarah melalui cerita,” katanya.
Ia menjelaskan, melalui kegiatan bertutur, anak-anak dapat mengembangkan berbagai kemampuan, seperti membangun kepercayaan diri, melestarikan budaya lokal, serta mengasah empati melalui pemahaman karakter dalam cerita.
Lebih lanjut, di tengah maraknya penggunaan gawai dan konsumsi konten instan, kemampuan bertutur dinilai kian penting. Anak-anak diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi pencerita yang kreatif dan inspiratif.
“Perpustakaan saat ini bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang ekspresi dan inkubator kreativitas bagi generasi muda,” jelasnya.
Kegiatan lomba berlangsung dengan penuh antusiasme. Para peserta tampil membawakan berbagai cerita rakyat dengan gaya dan karakter masing-masing.
Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat lahir generasi muda yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu menyampaikan nilai-nilai kebaikan melalui cerita, serta turut mengharumkan nama Kota Pekalongan di tingkat yang lebih tinggi.







