Menyongsong pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA), Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan terus mengintensifkan berbagai upaya strategis guna meningkatkan kualitas pembelajaran siswa, khususnya dalam penguatan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Selain itu, sinergi antara sekolah dan orang tua juga menjadi kunci utama dalam mendukung kesiapan peserta didik menghadapi asesmen tersebut.
Koordinator TKA tingkat Kota Pekalongan yang juga menjabat sebagai Kasi Peserta Didik dan Kurikulum Dindik Kota Pekalongan, Karyono, mengungkapkan bahwa persiapan TKA sebenarnya telah dilakukan sejak jauh hari, bahkan sejak Oktober 2025. Menurutnya, sekolah-sekolah di Kota Pekalongan menunjukkan kesiapan yang cukup matang.
“Kalau dilihat, sekolah sudah mempersiapkan diri cukup lama. Sejak Oktober 2025 kita sudah melakukan sosialisasi. Sekolah juga sudah menyediakan buku latihan, mengundang ahli, dan rutin mengadakan latihan. Harapannya tentu hasilnya baik karena persiapan sudah maksimal,” ujar Karyono, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (21/4/2026).
Ia menambahkan bahwa antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran justru meningkat, bukan sebaliknya. Hal ini tidak lepas dari peran orang tua yang telah diberikan pemahaman terkait manfaat TKA, sehingga hanya siswa yang benar-benar siap yang mengikuti.
“Orang tua sudah diberi pemahaman. Jadi kalau anaknya belum siap atau tidak berminat, tidak dipaksakan. Ini membuat anak-anak yang ikut justru lebih siap dan semangat,” imbuhnya.
Dari sisi kebijakan, Pemerintah Pusat juga telah melakukan sejumlah penyesuaian, termasuk perubahan jadwal pelaksanaan TKA. Jika sebelumnya pada jenjang SMA dilaksanakan dalam satu hari dengan tiga mata pelajaran, kini untuk jenjang SD dan SMP dibagi menjadi dua hari, yakni Bahasa Indonesia di hari pertama dan Matematika di hari kedua, yang kemudian dilanjutkan dengan Asesmen Nasional (AN).
Selain itu, Dindik Kota Pekalongan juga aktif melakukan pembinaan kepada guru, khususnya guru kelas 6. Kegiatan seperti bedah silabus, pelatihan, hingga penyediaan akses latihan berbasis daring menjadi langkah konkret untuk memastikan guru memahami secara mendalam materi yang akan diujikan.
“Kita bedah silabus bersama guru agar benar-benar memahami kompetensi yang diujikan. Kita juga dorong pemanfaatan latihan yang sudah disediakan kementerian melalui link khusus,” jelas Karyono.
Namun demikian, ia tidak menampik bahwa tantangan masih cukup besar. Berdasarkan rapor pendidikan, capaian literasi dan numerasi masih mengalami penurunan. Bahkan, hasil TKA di jenjang sebelumnya untuk SMA dan SMP menunjukkan rata-rata nilai yang masih rendah.
Sebagai langkah realistis, Dindik menargetkan capaian nilai rata-rata sebesar 55 untuk Matematika dan 60 untuk Bahasa Indonesia sebagai tahap awal.
“Ini target awal yang realistis. Karena ini pertama kali, yang penting ada peningkatan dan perbaikan ke depan,” tegasnya.
Karyono juga menyoroti perubahan pola pembelajaran yang kini menuntut siswa tidak hanya menghafal, tetapi mampu menganalisis dan memecahkan masalah kontekstual. Soal-soal TKA yang berbasis HOTS memiliki karakteristik bacaan panjang, variatif, dan membutuhkan pemahaman mendalam.
“Kalau gurunya tidak terbiasa memberikan soal seperti itu, tentu anak akan kesulitan. Maka pembelajaran juga harus berubah, tidak hanya sekadar hitungan, tetapi memahami konsep dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Terpisah, Kepala SD Negeri Podosugih 01 Kota Pekalongan, Resti Pramita mengakui adanya kekhawatiran terhadap hasil TKA, mengingat capaian di jenjang atas belum sesuai harapan. Namun demikian, pihak sekolah tetap optimis dengan berbagai upaya yang telah dilakukan.
“Kami tentu ada rasa khawatir, tapi tetap berusaha semaksimal mungkin. Harapannya anak-anak bisa meraih nilai di atas 50 persen,” ujarnya.
Ia juga melihat adanya perubahan positif dari sisi minat belajar siswa. Kehadiran TKA mendorong siswa lebih akrab dengan teknologi, terutama dalam penggunaan komputer sebagai media ujian.
“Anak-anak jadi lebih aware dengan teknologi. Mereka juga lebih semangat mengikuti pembelajaran tambahan, bahkan kehadiran sangat baik karena ada dukungan dari orang tua,” tambahnya.
Peran orang tua pun dinilai sangat krusial dalam mendampingi anak belajar di rumah. Melalui komunikasi aktif, termasuk pemanfaatan grup orang tua dan platform pembelajaran daring seperti LMS Moodle, sekolah berupaya memastikan proses belajar tetap berlanjut di luar kelas.
Hal senada diungkapkan Guru kelas 6 SD Negeri Podosugih 01 Kota Pekalongan, Ika Weni Tiara, menjelaskan bahwa, kemampuan siswa masih beragam. Sekitar 50 persen siswa sudah mampu memahami materi dengan baik, sementara sisanya masih membutuhkan pendampingan intensif.
“Untuk kelompok yang cepat, sekitar 50 persen sudah bisa. Tapi yang masih perlu bimbingan, belum mencapai itu. Kendalanya terutama di waktu, khususnya untuk Matematika yang dirasa masih kurang,” ungkapnya.
Meski demikian, kemampuan dasar seperti membaca dan memahami informasi tersurat sudah cukup baik. Dalam pembelajaran, ia juga menerapkan metode tutor sebaya untuk membantu siswa yang masih kesulitan.
“Anak-anak yang sudah bisa kami minta membantu temannya. Biasanya mereka lebih nyaman belajar dengan teman sebaya,” jelasnya.
Di sisi lain, ia mengakui adanya kekhawatiran menjelang pelaksanaan TKA, mengingat banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil, seperti kondisi fisik siswa hingga faktor psikologis.
“Yang penting kami terus memberikan motivasi agar anak tetap tenang, fokus, dan percaya diri saat mengerjakan,” tegasnya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, ia optimis pelaksanaan TKA tahun ini akan berjalan lebih baik.
“Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, siswa, dan orang tua diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih adaptif, berkualitas, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi abad 21,”tukasnya.







