PEKALONGAN.RILISJATENG.COM – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan mendorong peningkatan mutu pendidikan anak usia dini melalui inovasi SaTe SaPI (Satu TK Satu Pembuatan Inovasi). Program yang digagas oleh Pengawas TK Dabin 12 B tersebut hadir sebagai upaya membangun budaya inovasi di setiap satuan pendidikan taman kanak-kanak agar mampu menghadirkan pembelajaran yang semakin berkualitas, kreatif, dan sesuai kebutuhan anak.
Kepala Dindik Kota Pekalongan melalui Kepala Bidang PAUD dan PNF, Sherly Imanda Hidayah menjelaskan, program SaTe SaPI dilatarbelakangi masih banyaknya praktik baik yang telah dilakukan guru maupun kepala sekolah, namun belum terdokumentasi secara sistematis dan belum berkembang menjadi budaya yang berkelanjutan. Lewat program ini, setiap TK didorong untuk berani menciptakan solusi kreatif dalam menjawab berbagai tantangan pembelajaran maupun pengelolaan sekolah.
“Tujuan utama SaTe SaPI adalah menumbuhkan budaya inovasi di setiap TK, meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini, mendorong guru dan kepala sekolah menjadi pembelajar sepanjang hayat, mendokumentasikan praktik baik agar dapat direplikasi oleh sekolah lain, serta mendukung peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menuturkan, setiap satuan pendidikan didorong memiliki sedikitnya satu inovasi karena masing-masing sekolah memiliki karakteristik, potensi, dan tantangan yang berbeda. Dengan menghasilkan inovasi setiap tahun, sekolah akan terbiasa melakukan refleksi, mencari solusi atas berbagai permasalahan, sekaligus terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
“Inovasi bukan untuk berlomba menjadi yang terbaik, tetapi agar setiap sekolah terus berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kami juga memfasilitasi hasil inovasi guru dan kepala sekolah agar dapat menjadi inspirasi serta bermanfaat bagi lembaga lainnya,” tuturnya.
Dikatakan Sherly, inovasi yang diharapkan tidak harus berbasis teknologi tinggi maupun membutuhkan biaya besar. Berbagai bentuk inovasi dapat dikembangkan, mulai dari pembelajaran, media belajar, asesmen, literasi, numerasi, penguatan karakter, koding dan kecerdasan artifisial (KKA), kemitraan dengan orang tua, pengelolaan lingkungan belajar, administrasi sekolah, layanan inklusif, hingga digitalisasi layanan.
Dalam pelaksanaannya, program SaTe SaPI diawali dengan sosialisasi kepada kepala sekolah dan guru. Selanjutnya, masing-masing TK melakukan identifikasi kebutuhan, menyusun rencana inovasi, melaksanakan program, mendokumentasikan proses serta hasilnya, kemudian mengunggah laporan melalui aplikasi SaTe SaPI yang menjadi bank inovasi TK Kota Pekalongan. Seluruh proses tersebut didampingi pengawas melalui monitoring dan evaluasi secara berkala.
Ia melihat respons satuan pendidikan terhadap program ini sangat positif. Meski pada awalnya sebagian guru menganggap inovasi harus berupa sesuatu yang besar, pendampingan yang dilakukan secara rutin mampu meningkatkan kepercayaan diri mereka untuk mulai menghadirkan perubahan sederhana yang berdampak nyata bagi pembelajaran anak.
Sejumlah inovasi telah lahir dari program tersebut, di antaranya media pembelajaran berbahan daur ulang, pojok literasi keluarga, pembelajaran berbasis proyek, permainan koding tanpa gawai (unplugged coding), inovasi manajemen sekolah, program parenting kreatif, hingga pembelajaran berbasis budaya lokal Kota Pekalongan.
Untuk mendukung keberhasilan program, pihaknya melalui pengawas sekolah memberikan sosialisasi, pelatihan penyusunan inovasi, workshop praktik baik, pendampingan implementasi, coaching, konsultasi, monitoring, evaluasi, serta memfasilitasi publikasi hasil inovasi. Selain itu, jejaring belajar antarsekolah juga terus diperkuat agar setiap TK dapat saling berbagi pengalaman dan menginspirasi.
Lebih lanjut, ia berharap seluruh TK di Kota Pekalongan memiliki budaya inovasi yang kuat sehingga mutu layanan pendidikan meningkat secara merata. Setiap guru dapat menjadi agen perubahan, setiap sekolah memiliki praktik baik yang dapat dibagikan, dan setiap anak memperoleh layanan pendidikan yang aman, menyenangkan, inklusif, bermakna, serta mampu mengembangkan seluruh potensinya.







